#KETIKA CINTA HARUS MEMEMILIH #
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم
Hidup tanpa cinta rasanya
memang garing banget. Pokoknya bete deh. Sangat boleh jadi kehidupan ini
dipenuhi oleh mereka-mereka yang berhati batu. Kejam, bengis, dan sejenisnya.
Ibarat hidup di jaman Wild Wild West. Kill or be killed. Sadis!
Cinta, bisa tumbuh dan
berkembang dalam sebuah kehidupan. Coba kamu perhatiin, ortu kita sayang banget
kan sama kita? Kalo nggak sayang mah, kayaknya waktu kita bayi udah dibuang
kali tuh. Tapi, alhamdulillah, ortu kita termasuk orang yang mampu memberikan
cintanya kepada kita. Harapannya, agar kita bisa tumbuh, juga dengan memiliki
rasa cinta.
Sobat muda muslim, cinta
tumbuh di setiap makhluk yang bernyawa. Seperti sebuah lagu lawas berirama
melayu yang syairnya kayak begini, “Rasa cinta pasti ada, pada makhluk yang
bernyawa..../perasaan insan sama, ingin cinta dan dicinta..”
Yup, emang nggak ada tema
yang abadi untuk dibahas selain masalah cinta. Tengok aja mulai dari lagu,
puisi, prosa, sampai film didominasi masalah cinta. Wajar karena cinta adalah
perasaan yang universal. Dimana-mana, di seluruh dunia, orang membutuhkan dan
menginginkan cinta. Cinta ada pada orang tua yang cinta pada anak-anaknya,
anak-anak yang cinta pada orang tuanya, adik dan kakak yang saling menyayangi
seperti dalam filmChildren of Heaven, dan ehm, tentu saja cinta
dirasakan oleh sepasang pria dan wanita.
Pendek kata dengan cinta
kita bisa memberikan kesegaran dalam hidup seseorang. Kalo kamu ngasih uang
seribu perak kepada mereka yang membutuhkan, itu artinya kamu telah menolong.
Kalo bukan dengan rasa cinta, kayaknya nggak bakalan deh kamu tersentuh dengan
penderitaannya. Itu sebabnya orang suka bilang bahwa cinta biasanya berbanding
lurus dengan pengorbanan. Selalu seiring deh.
Dengan cinta pula, kamu
biasanya peduli dengan orang lain. Tegur sapa dengan sesama kita, boleh jadi
adalah hal kecil untuk menumbuhkan semangat kebersamaan. Tentunya dalam ikatan
cinta di antara kita sebagai manusia. Kita yakin kok, semua manusia itu butuh
cinta dan dicintai. Itu sebabnya, peduli adalah salah satu cara untuk
menumbuhkan rasa cinta. Masing-masing dari kita dalam pergaulan sehari-hari,
ogah banget kalo cuma dianggap sebagai bilangan, tapi kita kepengen juga
diperhitungkan. Tul nggak?
Tentang kepedulian dan
cinta ini, kita bisa meneladani Abdullah bin Amir. Dengan harga sembilan puluh
ribu dirham, beliau membeli rumah milik Khalid bin ‘Uqbah yang berada di dekat
pasar. Pada malam harinya, Abdullah mendengar suara tangis keluarga Khalid. Ia
pun bertanya, kepada salah satu pelayan rumahnya, “Mengapa mereka menangis?”
“Mereka menangis karena
mereka harus meninggalkan rumah yang telah tuan beli siang tadi,” jawab si
pelayan.
Mendengar penjelasan itu,
Abdullah bin Amir berkata, “Pelayan, katakan kepada mereka bahwa uang harga
rumah yang telah mereka terima beserta rumah itu menjadi milik mereka semua.”
Subhanallah, Abdullah bin
Amir bin Kuraiz tersebut, yang merupakan salah satu dermawan kota Baghdad telah
memberikan teladan kepada kita, betapa rasa rasa peduli dengan nasib sesama
membuatnya rela mengeluarkan hartanya. Sikap yang amat jarang bisa kita temukan
saat ini. Kepengen juga kayak beliau.
Memiliki cinta?
Berbahagialah!
Bang Doel Soembang pernah
nyanyi begini, “Cinta itu anugerah, maka berbahagialah. Sebab kita
sengsara, bila tak punya cinta”. Nggak mengada-ngada tentunya. Cinta memang
penuh makna. Dan bisa memberikan kesenangan kepada yang mendapatkannya. Imam
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkomentar tentang cinta, “Cinta itu bisa mensucikan
akal, mengenyahkan kekhawatiran, mendorong untuk berpakaian yang rapi, makan
yang baik-baik, memelihara akhlak yang mulia, membangkitkan semangat,
mengenakan wewangian, memperhatikan pergaulan yang baik, menjaga adab dan
kepribadian. Tapi cinta juga merupakan ujian bagi orang-orang yang shalih dan
cobaan bagi ahli ibadah.”
Sobat muda muslim, jangan
salah bahwa cinta bisa berarti sangat luas. Nggak sebatas hubungan antara pria
dan wanita saja. Seperti yang udah dijelaskan di awal tulisan ini. Cinta, bisa
berarti hubungan antara anak dan ortu yang full kasih sayang. Bisa juga berarti
saling mencintai dan menyayangi dengan teman, bisa juga saling menumbuhkan rasa
cinta di antara saudara, dan lain sebagainya. Pokoknya luas deh, termasuk cinta
kita kepada harta, jabatan, tempat tinggal, kendaaraan, dan yang utama cinta
kepada Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah saw. bahkan
memberikan teladan bagus kepada kita bagaimana mencintai orang lain dengan
tidak pandang bulu. Siapa pun ia, Rasulullah memberikan perhatian, kepedulian,
dan tentu cintanya. Ada kisah menarik yang bisa kita simak. Diriwayatkan Abu
Hurayrah (Nailul Awthar, 4: 90):
“Ada seorang perempuan
hitam yang pekerjaannya menyapu masjid. Pada suatu hari, Nabi saw. tidak
menemukan perempuan itu. Nabi saw. menanyakan ihwalnya. Para sahabat mengatakan
bahwa ia telah mati. Ketika Nabi menegur mereka kenapa tidak diberitahu, para
sahabat mengatakan bahwa perempuan itu hanya orang kecil saja. Kata Nabi saw.,
“Tunjukkan aku kuburannya.” Di atas kuburan itu Nabi melakukan shalat
untuknya.”
Subhanallahu, sungguh
mulia sekali Nabi kita. Ia memberikan teladan yang amat bagus bagi hidup kita.
Dalam kesehariannya, Rasul sangat menghormati para sahabatnya. Ambil contoh,
suatu hari Abdullah al-Banjaliy tidak kebagian tempat duduk saat menghadiri
majlis Rasulullah. Mengetahui hal itu, Rasul lalu mencopot gamisnya dan
mempersilakan sahabatnya itu untuk duduk. Tapi Abdullah al-Banjaliy tidak
mendudukinya, malah mencium baju Rasulullah dengan air mata yang berlinang, “Ya
Rasulullah, semoga Allah memuliakanmu, sebagaimana Anda telah memuliakanku,”
komentar Abdullah.
Hmm.. kira-kita kita
begitu nggak sama teman kita? Kadang, di antara kita suka ada yang merasa sok
sibuk mikirin ummat, sampe-sampe lupa untuk sekadar menyapa kepada teman kita,
“Apa kabar?” Padahal, hal ‘sepele’ itu bisa menumbuhkan kecintaan juga lho.
Bener. Jangan dikira kagak ada efeknya. Pengaruhnya besar lho. Sebab,
kepedulian akan menumbuhkan rasa cinta, dan itu bisa menjadi jalan bagi
seseorang untuk bisa menikmati hidup dengan tenang dalam sebuah kebersamaan
yang penuh kasih sayang. Nggak percaya? Cobalah kamu lakukan. Siapa tahu
kepedulian kamu akan bisa membuat temanmu merasa bahagia. Ditanggung antimanyun
deh. Suer.
Itu semua karena cinta
sodara-sodara. Sungguh, berbahagialah orang yang memiliki cinta dan
memberikannya kepada orang lain. Bahkan bila perlu korbankan segala yang kita
miliki dan cintai. Sekali lagi, berbahagialah mereka yang memiliki cinta.
Prioritas cinta kita...
Adakalanya kita sulit
menentukan pilihan, bahkan sekadar membuat urutan prioritas sekali pun. Bener,
kita kadang bingung kalo disodorkan berbagai pilihan yang kudu diambil salah
satu. Apalagi semua pilihan itu memikat. Rasanya sayang kalo sampe nggak
diambil. Tapi, dalam kondisi tertentu kita dituntut untuk bisa menentukan prioritas
cinta kita. Untuk apa dan kepada siapa. Siap kan?
Dari semua cinta yang
kita miliki, pastikan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menempati daftar utama
dalam kehidupan kita. Yang lainnya; cinta harta, kendaraan, jabatan, status
sosial, tempat tinggal, perusahaan, barang dagangan, bahkan cinta kita kepada
keluarga, dan suami atau istri (bagi yang udah punya he..he..) harus rela untuk
‘dikesampingkan’. Allah Swt. berfirman:
“Katakanlah: "Jika
bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta
kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan
rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada
Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang fasik.”
(at-Taubah [9]: 24)
Untuk masalah ini,
Rasulullah pantas dan layak menjadi teladan kita. Maka jangan heran jika Aisyah
ra. bercerita tentang Rasulullah saw. setelah didesak oleh Abdullah bin Umar.
Apa yang diceritakan Ummul Mukminin?
Beliau menceritakan
sepotong kisah bersama Rasulullah saw. (Tafsir Ibnu Katsir, I: 1441):“Pada
suatu malam, ketika dia tidur bersamaku dan kulitnya sudah bersentuhan dengan
kulitku, dia berkata, “Ya, Aisyah, izinkan aku beribadah kepada Rabbku.” Aku
berkata, “Aku sesungguhnya senang merapat denganmu, tetapi aku senang melihatmu
beribadah kepada Rabbmu.”Dia bangkit mengambil gharaba air, lalu berwudhu.
Ketika berdiri shalat, kudengar dia terisak-isak menangis. Kemudian dia duduk
membaca al-Quran, juga sambil menangis sehingga air matanya membasahi
janggutnya, ketika dia berbaring, air matanya mengalir lewat pipinya mambasahi
bumi di bawahnya. Pada waktu fajar, Bilal datang dan masih melihat Nabi saw.
menangis,”Mengapa Anda menangis, padahal Allah ampuni dosa-dosamu yang telah
lalu dan yang kemudian?” tanya Bilal. “Bukankah aku belum menjadi hamba yang
bersyukur. Aku menangis karena malam tadi turun ayat Ali Imran 190-191.
Celakalah orang yang membaca ayat ini dan tidak memikirkannya.”
Memang, adakalanya kita
sulit banget menentukan pilihan utama di antara sekian pilihan yang semuanya
bagus bagi kita. Tapi, di sinilah jiwa berkorban kita diuji. Apakah kita lebih
mencintai Allah dan Rasul-Nya, atau memilih mencintai yang lain?
Sobat muda muslim, para
sahabat Rasulullah juga memberikan teladan bagus buat kita. Khalid bin Walid
salah satunya, beliau sampe berkomentar begini, “Malam yang dingin saat
memimpin pasukan dalam sebuah ekspedisi untuk menghancurkan musuh-musuh Allah,
lebih aku sukai ketimbang mendapatkan seorang bayi laki-laki yang baru lahir.”
Subhanallahu, bukankah itu pelajaran yang amat berharga bagi kita tentang
prioritas cinta?
Di Uzbekistan, saudara
kita, para pengemban dakwah di sana, lebih memilih berhadapan dengan diktator
Islam Abdulghanievic Karimov, ketimbang ‘serah bongkokan’ alias mengalah kepada
pemimpin jahat dan bengis itu. Banyak para pengemban dakwah yang kebanyakan
para pemuda dikejar, ditangkap, dipenjara, dan tak sedikit yang kemudian
dibunuh. Penjaranya nggak tanggung-tanggung, sobat. Penjara itu berada di suatu
pulau di tengah laut Aral. Cukup? Belum! Tempat itu disebut Barisah Kilmaz
alias “mereka yang pergi ke sana tak akan kembali”. Pulau itu adalah tempat pembuangan
sampah nuklir! Ngeper? Oh, Tidak! Para pemuda di sana malah tambah semangat dan
yakin dengan jaminan surga dari Allah swt. Karena membela agama-Nya. Semangat
membela Islam lah yang menenggelamkan rasa takut dan keraguan. Cinta kepada
Allah di atas segalanya. Sungguh luar biasa semangat mereka. Patut dicontoh.
Teman pembaca, jika kita
harus memilih cinta, pilihlah yang utama, yakni cinta kepada Allah dan
Rasul-Nya. Boleh kok kita mencintai yang lainnya, asal jangan melupakan Allah
dan Rasul-Nya. Yuk, mulai sekarang kita belajar untuk mencintai Allah,
Rasul-Nya, dan Islam dengan sepenuh hati kita. Insya Allah kita bisa kok. Yakin
deh.?